Mengenang Drama Mentari Kehidupan

Masih ingat dengan postingan saya yang berjudul “[Drama] Mentari Kehidupan Sarat Makna Sosial”? Saya tak menyangka postingan itu mendapat predikat pencarian tertinggi di blog ini. Ada sekitar 500 lebih pencarian dari google yang membawa pengunjung ke postingan ini. Dengan kata kunci mentari kehidupan, drama sosial, lin rong zong, daai tv, tsu chi, dan lain-lain.

Seperti judul di atas, postingan ini hanya untuk mengenang drama itu. Drama yang menceritakan tentang perjalanan hidup Lin Rong-Zong yang terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Kesehariannya mereka hanya mengenal bubur ubi sebagai makanan pokoknya. Tak ada nasi, sayur, apalagi lauk. Keadaan yang susah ini membuat lin rong zong dan adik-adiknya tampak kurus dan mudah sakit.

Mengenang Drama Mentari Kehidupan

Tapi ini lin rong zong. Melihat keadaan keluargannya yang miskin dia belajar dengan sangat giat. Setiap ada waktu kosong dia selalu mengisinya dengan membaca buku. Sambil berjalan, sambil makan pun dia tetap membaca. Malam hari ketika mengatuk membaca buku, dia langsung berdiri atau mencelupkan kakinya ke dalam air supaya rasa ngantuknya hilang.

Begitulah.. Sampai dia lulus SD, SMP, SMA dan Universitas Fakultas kedokteran. Tentu saja bukan orang tuannya yang membiayainya. Karena kecerdasan dan prestasinya itu membuat banyak orang yang rela membantu membiayai pendidikannya. Yah sekarang Lin Rong Zong menjadi dokter cukup terkenal di Taiwan.

Memang sangat mengharukan drama ini. Banyak pelajarang yang bisa di ambil. Tapi sayang sekarang drama ini sudah tamat. Episode terakhir di tayangkan sekitar 2 minggu yang lalu. Bagi yang belum tahu seperti apa dramanya atau sekedar mengenang drama ini boleh lihat di video ini barang sebentar.

Ohya, untuk menonton drama menarik lainnya, jangan lupa selalu buka TV anda di channel DAAI TV. Sekarang sedang tayang drama berjudul “Rembulan di atas sungai“. Dan tentu saja tak kalah bagus untuk di tonton. Kalau anda bosan dengan sinetron Indonesia yang isinya cuma merusak moral, beralih lah ke DAAI TV ini. Semoga anda tertarik, 😀

Mau Jadi Perampok…??? Siapa Takut..!!!

Pagi hari awal ramadhan saya sempatkan untuk bongkar-bongkar buku yang ada di kamar. Tidak sengaja saya menemukan catatan-catatan kecil saat saya masih aktif di organisasi dakwah kampus dulu. Saya menemukan kalimat sederhana yang sempat tertulis dalam lembaran kecil yang bercampur dengan catatan-catatan kuliah saya.

Mungkin anda pernah mendengar kalimat ini “Man’ taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi“. Sebuah sabda yang pernah disampaikan oleh Rosulullah dalam sebuah pengajian kecil di sebuah masjid di tengah para sahabat.

Mau Jadi Perampok… Siapa Takut....!!!

Saya yakin sekali, di antara rekan-rekan ada yang sangat memahami kisah dari kalimat tersebut, yang artinya sebagai berikut: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam keadaan haramnya, niscaya ia akan mendapatkannya dalam kondisi halalnya“.

Nah, pada zaman Rosulullah di suatu malam, Rosul sedang memberikan pengajian di tengah para sahabat-sahabatnya di sebuah masjid. Di masjid itu, ada seorang perampok yang duduk di pojok sedang kedinginan dan merintih kesakitan karena lapar. Tidak sengaja sambil menahan rasa laparnya, sang perampok mendengar sabda Rosul di tengah para sahabat, “Man taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi” atau “Barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam keadaan haramnya, niscaya ia akan mendapatkannya dalam kondisi halalnya”. Kalimat itu tanpa sengaja terekam dalam pikiran sang perampok tadi, walaupun sang perampojk hanya duduk saja di pojok masjid.

Malam semakin larut, hawa pun semakin dingin, sang perampok pun semakin merintih kesakitan karena laparnya. Akhirnya karena sudah tak kuasa menahan lapar, sang perampok pun memutuskan untuk keluar masjid dan berencana mencari mangsa ke rumah-rumah penduduk untuk mengobati rasa laparnya.

Tidak sengaja ketika melewati sebuah kampung, sang perampok melihat ada rumah yang pintunya terbuka. Maka masuklah sang perampok ke dalam rumah tersebut untuk mencari makanan. Rumah tersebut adalah rumah seorang janda yang telah ditinggal wafat oleh suaminya.

Tak lama berada di dalam rumah tersebut, sang perampok menemukan meja makan yang di atasnya sudah ada beberapa makanan yang siap disergap. Saat tangan si perampok akan mengambil makanan tersebut, spontan ia terngiang dengan Sabda Rosul, “Man taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi“. Ia pun memutuskan untuk tidak mengambilnya dan menarik tangannya kembali dari makanan itu.

Kemudian sang perampok hendak pergi dari meja makan itu, tak sengaja ia melihat lemari yang pintunya terbuka. Ia terkejut ketika di dalam lemari itu terdapat perhiasan yang jika dijual bisa tak ternilai harganya. Lalu ia pun memutuskan untuk mengambil perhiasan itu saja untuk dijual dan membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari. Ia pun melangkah menghampiri lemari tersebut. Namun apa yang terjadi, ketika tangannya akan mengambil perhiasan tersebut, secara spontan ia pun terngiang kembali Sabda Rosul yang ia dapat di masjid tadi, “Man taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi“. Maka sang perampok ini pun mengurungkan niatnya mengambil perhiasan itu. Karena sangat terngiang oleh Sabda Rosul, ia memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut.

Saat ia menuju keluar rumah, ia melewati sebuah kamar yang terbuka pintunya dan di dalamnya terlihat ada seorang wanita yang tidur sendirian. Spontan ketika melihat yang demikian, lapar sang perampok langsung hilang dan syahwatnyalah yang justru muncul. Tidak banyak berpikir, sang perampok langsung menghampiri wanita tersebut dan ingin memperkosanya. Namun sekali lagi, Spontan saat itu sang perampok kembali terngiang oleh sabda Rosul, “Man taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi“. Hingga ia pun menangis karena terngiang oleh sabda itu. Dengan kekuatan hati yang masih tersisa di dalam benak perampok tersebut, akhirnya sang perampok kehilangan nyalinya sebagai perampok kemudian langsung keluar dan kembali ke masjid tadi.

Sang perampok tersebut memutuskan untuk berdiam diri di masjid dan menahan rintihan sakit di perutnya karena lapar hingga pagi hari.

Di pagi harinya setelah sholat shubuh berjamaah di masjid tersebut, tiba-tiba Rosulullah dihampiri seorang wanita yang tidak lain adalah janda yang berada pemilik rumah tadi. Janda tersebut berkata, “Ya Rosul, tadi malam aku merasakan rumahku dimasuki oleh seseorang, dan aku merasa bahwa orang tersebut akan memerkosaku. Aku takut ya Rosul. Bisakah mencarikanku suami yang bisa melindungiku”. Melihat permintaan janda tersebut, sang Rosul berfikir dan kala itu melihat ada seorang lelaki yang duduk di pojok masjid. Sang Rosul menghampiri lelaki itu dan menawarkannya untuk menikah. Akhirnya, sang lelaki itu yang notabene adalah perampok yang merintih kelaparan tadi, meng-iyakan tawaran Rosulullah dan terjadilah pernikahan antara janda dan perampok tadi.

Kawan, ketika kita menyimak kisah ini, sepertinya ini adalah hal yang tidak mungkin untuk terjadi di zaman modern sekarang ini. Akan tetapi yang perlu kita tarik benang merah di sini adalah Sabda Rosul “Man taroka syai’in fii haroomihi naala fii halaalihi“, bahwa “Barangsiapa meninggalkan sesuatu dalam keadaan haramnya, niscaya ia akan mendapatkannya dalam kondisi halalnya”. Sang perampok telah menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan yang haram, dan ia pun telah mendapatkan sesuatu yang haram sebelumnya menjadi sesuatu yang halal baginya.

Kunci dari perampok tersebut hanya mengimani apa yang telah disabdakan oleh rosul. Makanan yang sebelumnya haram, ia sekarang bisa menikmatinya dalam keadaan halal. Perhiasan yang sebelumnya haram, ia bisa meraihnya dengan halal. Dan Seorang wanita yang awalnya haram baginya, ia pun telah memperolehnya dengan status halal karena telah dinikahkan oleh Rosul.

Bagaimana dengan keseharian kita saat ini kawan, sudahkah kita belajar dari perampok tersebut atau minimal menjadikan inspirasi untuk meningkatkan keimanan kita. Tidak ada salahnya kita belajar dari sifat sisi positif yang dimiliki perampok tersebut, dimana ada kekuatan hati tersembunyi di tengah profesinya sebagai perampok.

Semoga catatan kecil ini menjadi penyemangat untuk mencapai tujuan hidup kita khususnya di bulan Ramadhan atau bulan Training Center ini 😀

Wallahua’lam bisshowab 🙂

Mr. Solihun, Kisah Inspirator Fenomenal…!!!

Saya tertegun ketika melihat acara kick andy beberapa malam yang lalu. Di acara itu diperlihatkan bagaimana Kesuksesan seseorang diraih setelah melawan keterbatasan. Bapak Ahmad Sholihun Ikhsan, seorang yang terlahir pada tahun 1973 dengan penuh keterbatasan sebagai penyandang cacat fisik dengan keadaan kaki dan tangan yang tidak normal. Di kota kelahirannya di Indramayu jawa barat, beliau sempat menjadi orang yang minder selama 13 tahun dan hampir tidak pernah keluar rumah.

Mr. Solihun, Kisah Inspirator Fenomenal…

Di kesehariannya yang hanya di dalam rumahnya itu, ia hanya berkutat dengan radio kesayangannya dan televisi sebagai teman sejatinya. Dari televisi itulah, dia bisa belajar membaca dan banyak memperoleh informasi, walaupun acara televisi dan radio sangatlah terbatas di kala itu.

Ketika ibunya wafat, menjadi titik balik bagi kehidupannya. Ia meminta sang ayah untuk mengijinkannya melihat dunia luar dan belajar di pesantren. Maka Sholihun mendapat kesempatan untuk belajar di pesantren hingga enam tahun lamanya.

Di pesantren inilah dia akhirnya menjadi pribadi yang pintar bersosialisasi dan tidak menjadi pribadi rumahan seperti sebelumnya. Bahkan ia pun mulai menyadari, bahwa keterbatasan dirinya sebenarnya bukanlah keinginan orangtuanya sehingga terlahir sebagai penyandang cacat, namun inilah cobaan yang diberikan oleh Allah kepada dirinya. Dan yang paling tertanam dalam dirinya adalah, ia sangat yakin bahwa dibalik keterbatasan tersebut pasti ada keistimewaan yang ada pada dirinya.

Alhasil, semua berubah sekarang. Ia memiliki kelebihan di bidang radio. Sikap keberanian, pantang menyerah dan kecintaannya pada radio yang menjadikan pak Sholihun kini bisa berhasil membangun sebuah stasiun radio dan menjadi pengusaha radio. Ia menyadari bahwa radio bukan saja alat hiburan, tapi alat komunikasi sosial yang bisa memberikan manfaat besar bagi banyak orang. Jika rekan-rekan pernah tau Stasiun radio kotamangga di indramayu, itulah yang dimiliki oleh bapak Sholihun.

Ia pun saat ini merasakan sebagai pengusaha sukses dan juga pemilik berbagai aset bisnis seperti warnet dan juga memiliki lembaga pendidikan dengan murid mencapai 700 siswa.

Dari pengalaman tersebut, sudah seharusnya kita membuka mata hati kita masing-masing. Sebenarnya kita telah dibekali oleh Allah dengan kelebihannya masing-masing, siapapun itu tanpa terkecuali. Energi positiflah yang seharusnya kita kedepankan di dalam diri kita. Bayangkan, saudara kita yang hidup dengan penuh keterbatasan saja mampu mengedepankan semangat dan energi positif mereka, bagaimana dengan kita yang hidup dengan keadaan fisik yang normal, kawan?? 🙂