Membuat Plugin dengan Pondasi yang Kuat

Dalam membuat sebuah plugin, perlu diperhatikan dasar-dasarnya. Sangat penting untuk memulai pembuatan plugin dengan pondasi yang kuat. Membuat plugin menggunakan bahasa PHP dapat dilakukan di satu file saja atau beberapa file. Untuk membuat plugin, tentu saja kita harus menciptakan sebuah nama untuk plugin tersebut. Sebaiknya nama yang dipilih mewakili fungsi yang diberikan oleh plugin yang bersangkutan.

Membuat Plugin dengan Pondasi yang Kuat

Pembuatan plugin juga sebaiknya menggunakan sebuah folder dimana dalam folder tersebut menyimpan file-file yang bersangkutan dengan plugin yang dibuat. Dalam folder tersebut juga dapat berisi sub-folder lagi. Nama folder yang digunakan sebaiknya sama dengan nama plugin tersebut. Aturan penamaan folder sesuai dengan aturan penamaan folder di Windows.

Semua yang berkaitan dengan pembuatan plugin, harus mempunyai prefix yang unik, yakni tambahan awalan di depannya. Apa saja yang harus memiliki prefix? Diantaranya adalah nama file, nama fungsi, nama variabel, beserta apa saja yang berkaitan dengan penamaan dalam pembuatan plugin. Hal ini dimaksudkan agar nama-nama tersebut tidak bentrok atau tidak sama namanya dengan nama-nama yang ada di plugin lain atau bagian lain dari platform WordPress seperti theme atau fungsi inti wordpress.

Prefix dapat berupa inisial dari nama plugin atau bahkan nama pembuat plugin, nama Anda! Misal nama plugin yang akan kita buat adalah Azon Slide Offer, maka prefix yang dapat digunakan adalah ‘aso’. Contohnya apabila kita mau menamai sebuah database option, maka dapat dinamakan seperti ini : aso_options. Dengan aturan penamaan seperti itu, maka kemungkinannya sangat kecil akan conflict dengan penamaan dari plugin lain atau bagian WordPress lainnya.

Aturan berikutnya adalah pengorganisasian file. Organisasi file yang baik akan menjadikan plugin yang dibuat terlihat profesional. Biasanya kita hanya memerlukan 2 file dalam folder plugin kita, file PHP utama dan file uninstall.php. Sementara file lainnya ditaruh dalam sub-folder. Juga sangat disarankan agar plugin dipecah-pecah kedalam beberapa file kecil-kecil. Hal ini akan mempengaruhi performance plugin yang bersangkutan. Misalnya kita dapat membuat file tersendiri untuk fungsi-fungsi admin. Jadi fungsi-fungsi admin tersebut hanya dipakai ketika user berada di halaman admin. Untuk melakukan hal tersebut contohnya dapat menggunakan kode berikut :
<?php
if ( is_admin() ) {
// we’re in wp-admin
require_once( dirname(__FILE__).’/includes/admin.php’ );
}
?>

Contoh di atas menggunakan fungsi dari WordPress : is_admin(), untuk menentukan apakah user sedang berada di dashboard admin. Apabila iya, maka plugin akan memproses file /includes/admin.php.

Berikut ini contoh pengorganisasian file-file yang digunakan suatu plugin :

  • /unique-plugin-name — (nama folder plugin, tidak ada spasi atau karakter spesial)
  • unique-plugin-name.php — Nama file utama plugin
  • uninstall.php — file uninstall dari plugin
  • /js — folder untuk JavaScript, apabila plugin anda menggunakan JavaScript
  • /css — folder untuk CSS, apabila plugin anda menggunakan CSS
  • /includes — folder untuk file PHP lainnya

Dengan menggunakan pengorganisasian file tersebut, selain plugin menjadi terlihat profesional, kita juga dapat melacak kode-kode plugin apabila kita ingin meng-upgrade plugin tersebut, atau apabila plugin tersebut memiliki kesalahan pemrograman.

Pada pembahasan berikutnya kita akan memulai untuk membuat plugin.