10 CMS Terbaik Di Dunia Tahun Ini

Ada yang tahu berapa jumlah CMS yang telah tersedia di dunia (maya)? Saya sendiri tak bisa menebak. Mungkin ada sekitar puluhan bahkan ratusan! Kemarin saya browsing di google mencari kesana dan kemari, ternyata ada banyak sekali! Ada yang versi free alias gratis dan ada juga yang premium alias berbayar. :amazed:

10 CMS Terbaik di Dunia Tahun ini 2019

Sekedar berbagi info bagi yang belum tahu, CMS adalah singkatan dari Content Management System atau sistem manajemen konten. Atau bahasa mudahnya : semacam software yang di rancang untuk memudahkan kita dalam menginstal program ke server, mengkofigurasikan sistem, dan memasukan data dan informasi sehingga jadilah yang namanya website. :hihi:

Website yang ada sekarang adalah website yang sudah berkembang sangat maju ketimbang masa-masa sekitar tahun ’90 an. Dimana pada masa itu website di buat hanya menggunakan kode-kode HTML yang sangat sederhana dan bsrsifat statis. Setiap penambahan postingan / tulisan harus di buat dahulu kode HTMLnya sekaligus kode-kode untuk mendesain tampilan. πŸ˜€

Beda dangan sekarang yang segala sesuatunya, baik menambah postingan, mengubah tampilan, atau mengedit thema menjadi sangat mudah. karena sistem manajeman konten ini telah memisahkan bagian tampilan dan konten isi website.

Apa saja CMS yang ada itu? Berikut saya posting 10 CMS terbaik hasil analisis saya sendiri, yang boleh Anda coba.. πŸ˜€

1. WordPress

Siapa yang tak mengenal WordPress? CMS terbaik ini telah begitu familiar di seluruh dunia. Anda mungkin salah satu pemakainya. WordPress mulai di luncurkan pada tahun 2003 dari ide briliant Matt Mullenweg dengan bit kode tunggal. Kini wordpress di bangun dengan bahasa PHP dan Mysql. Tampilan interface yang user friendly, mudah di gunakan dan pengembangannya yang selalu ter-update membuat wordpress menjadi CMS yang paling di gemari di dunia.

2. Radiant CMS

Kalau di indonesia, Radiant mungkin sangat sedikit penggunanya. Tapi kalau di luar pendukungnya sangatlah banyak. Sistem interfacenya juga sangat mudah di pahami. Radiant CMS di bangun dengan bahasa ruby. Radiant CMS juga sudah menggunakan editor WYSIWYG (What You See Is What You Get) yang memudahkan kita menuliskahan artikel dengan tambahan tool-tool editor.

3. Drupal CMS

Drupal adalah sebuah CMS yang peminat dan komunitasnya cukup banyak. CMS Drupal sangat simple tapi terkenal dengan ketahanan dan securitynya yang sangat kuat. Drupal lahir dari tangan seorang Dries Buytaert sekitar tahun 1998-1999 dengan pemrograman PHP dan Mysql. Sejak di luncurkan menjadi open source tahun 2001 Drupal mulai menampakkan kejayaannya karena tiap orang boleh dan bisa mengembangkan kode sumber scriptnya.

CMS Drupal tidak menyertakan editor WYSIWYG dalam instalasinya tapi kita bisa mendapatkan editor tersebut dengan menambahkan modulnya tersendiri.

4. Joomla!

Seperti Drupal, joomla! juga memiliki peminat dan komunitasnya tersendiri. Bagi yang pemula, tampilan backendnya mungkin terasa sangat rumit karena terlalu banyak sekali menu dan tool yang muncul di halaman admin. Tapi bagi yang telah terbiasa menggunakannya, Joomla! justru menjadi CMS yang paling mudah untuk di kostumisaikan dan sangat powerfull.

Joomla! lahir dari tangan Formerly Miro yang awalnya bernama Mambo Open Source pada tahun 2000. Perjalanannya sangat panjang, sampai pada tahun 2005 di ambil alih oleh organisasi NonProfit dan namanya di ganti menjadi Joomla!

5. SilverStripe CMS

SilverStripe adalah CMS yang memiliki fitur yang sangat lengkap dan mampu melakukan apa saja yang anda inginkan. silverStripe di bangun dengan PHP dengan kerangka Sapphire sehingga bisa di sesuaikan sesuai kebutuhan. SilverStripe juga memiliki banyak dukungan gratis dan dokumentasi yang lengkap bagi para pengembang. SilverStripe di luncurkan pada November 2006 oleh beberapa orang team yang ahli di bidang OpenSource.

6. Modx CMS

Modx CMS adalah CMS yang bisa di bilang sangat bagus dan kuat. Selain tampilan backendnya mudah di pahami juga fungsi Quickedit front end editingnya yang sangat membantu. Pada Modx juga juga sangat simple dan bersahabat dengan SEO. Memiliki templete variable (TVs) yang memudahkan kita dalam mengkustom tampilan. Modx pertama kali di luncurkan pada tahun 2004.

7. TextPattern CMS

TextPattern adalah salah satu CMS yang menggunakan UI tab pada backend adminnya sehingga terlihat simple dan minimalis. Menurut banyak pengguna, ini adalah CMS yang paling cepat loadingnya. Sayangnya Textpattern tidak memiliki editor WYSIWYG yang lengkap, tapi cukup mudah sekali dalam mengedit konten termasuk bagi para pemula.

Textpattern awalnya hanya sebuah situs pribadi dari dari seorang Dean Allen yang di luncurkan pada tahun 2001. Textpattern memiliki banyak sekali kelebihan yang tak di miliki CMS lainnya. Kini versi terbarunya adalah versi 4.3.0

8. CMS Made Simple

Menurut pembuatnya, ini adalah CMS yang paling simple yang pernah ada. Tak perlu banyak waktu untuk mempelajarinya. Template CMS made simple bisa di buat hanya dengan kode CSS, hampir sama dengan templete yang di gunakan blogspot. Made Simple memakai XHTML dan CSS yang bersih dan cepat loading sehingga banya orang yang menyukainnya. CMS Made Simple lahir dari tangan 14 orang yang mereka sebut β€œDev Team” pada juli 2004. Versi terbarunya adalah Versi 1.9

9. Expression Engine

Expression Engine adalah salah satu CMS yang bisa di bilang cukup kuat dalam hal keamanan dan securitynya. EE ini juga memiliki banyak sekali dukungan untuk setiap fungsi yang kita butuhkan, baik yang ada di dalam paket inti maupun melalui modul atau plugin. Sayangnya Expression Engine ini adalah CMS premium alias berbayar. Harganya $99.95 untuk pribadi dan $249.95 untuk lisensi komersial. Ada juga versi Core gratis tapi hanya untuk situs non komersil.

10. Aura CMS

Ada yang tak mengenal Aura CMS? Ini adalah CMS terbaik buatan anak bangsa. Kita harusnya bangga karena Indonesia juga bisa menciptakan CMS yang hampir setara dengan produk luar. Yah meskipun masih banyak kekurangannya tapi semoga banyak para developer dan pengembang yang selalu memperbaikinya.

Aura CMS pertama kali di luncurkan pada pertengahan 2003. Kini Aura CMS telah memiliki versi terbaru yaitu versi 2.30

Demikian 10 CMS pilihan yang boleh anda coba.. Ada yang ingin menambahkan? Silakan bagi di kolom komentar, πŸ˜€

Membuat Plugin dengan Pondasi yang Kuat

Dalam membuat sebuah plugin, perlu diperhatikan dasar-dasarnya. Sangat penting untuk memulai pembuatan plugin dengan pondasi yang kuat. Membuat plugin menggunakan bahasa PHP dapat dilakukan di satu file saja atau beberapa file. Untuk membuat plugin, tentu saja kita harus menciptakan sebuah nama untuk plugin tersebut. Sebaiknya nama yang dipilih mewakili fungsi yang diberikan oleh plugin yang bersangkutan.

Membuat Plugin dengan Pondasi yang Kuat

Pembuatan plugin juga sebaiknya menggunakan sebuah folder dimana dalam folder tersebut menyimpan file-file yang bersangkutan dengan plugin yang dibuat. Dalam folder tersebut juga dapat berisi sub-folder lagi. Nama folder yang digunakan sebaiknya sama dengan nama plugin tersebut. Aturan penamaan folder sesuai dengan aturan penamaan folder di Windows.

Semua yang berkaitan dengan pembuatan plugin, harus mempunyai prefix yang unik, yakni tambahan awalan di depannya. Apa saja yang harus memiliki prefix? Diantaranya adalah nama file, nama fungsi, nama variabel, beserta apa saja yang berkaitan dengan penamaan dalam pembuatan plugin. Hal ini dimaksudkan agar nama-nama tersebut tidak bentrok atau tidak sama namanya dengan nama-nama yang ada di plugin lain atau bagian lain dari platform WordPress seperti theme atau fungsi inti wordpress.

Prefix dapat berupa inisial dari nama plugin atau bahkan nama pembuat plugin, nama Anda! Misal nama plugin yang akan kita buat adalah Azon Slide Offer, maka prefix yang dapat digunakan adalah β€˜aso’. Contohnya apabila kita mau menamai sebuah database option, maka dapat dinamakan seperti ini : aso_options. Dengan aturan penamaan seperti itu, maka kemungkinannya sangat kecil akan conflict dengan penamaan dari plugin lain atau bagian WordPress lainnya.

Aturan berikutnya adalah pengorganisasian file. Organisasi file yang baik akan menjadikan plugin yang dibuat terlihat profesional. Biasanya kita hanya memerlukan 2 file dalam folder plugin kita, file PHP utama dan file uninstall.php. Sementara file lainnya ditaruh dalam sub-folder. Juga sangat disarankan agar plugin dipecah-pecah kedalam beberapa file kecil-kecil. Hal ini akan mempengaruhi performance plugin yang bersangkutan. Misalnya kita dapat membuat file tersendiri untuk fungsi-fungsi admin. Jadi fungsi-fungsi admin tersebut hanya dipakai ketika user berada di halaman admin. Untuk melakukan hal tersebut contohnya dapat menggunakan kode berikut :
<?php
if ( is_admin() ) {
// we’re in wp-admin
require_once( dirname(__FILE__).’/includes/admin.php’ );
}
?>

Contoh di atas menggunakan fungsi dari WordPress : is_admin(), untuk menentukan apakah user sedang berada di dashboard admin. Apabila iya, maka plugin akan memproses file /includes/admin.php.

Berikut ini contoh pengorganisasian file-file yang digunakan suatu plugin :

  • /unique-plugin-name β€” (nama folder plugin, tidak ada spasi atau karakter spesial)
  • unique-plugin-name.php β€” Nama file utama plugin
  • uninstall.php β€” file uninstall dari plugin
  • /js β€” folder untuk JavaScript, apabila plugin anda menggunakan JavaScript
  • /css β€” folder untuk CSS, apabila plugin anda menggunakan CSS
  • /includes β€” folder untuk file PHP lainnya

Dengan menggunakan pengorganisasian file tersebut, selain plugin menjadi terlihat profesional, kita juga dapat melacak kode-kode plugin apabila kita ingin meng-upgrade plugin tersebut, atau apabila plugin tersebut memiliki kesalahan pemrograman.

Pada pembahasan berikutnya kita akan memulai untuk membuat plugin.